FAQ

"Revitalisasi adalah upaya untuk meningkatkan nilai lahan/kawasan melalui pembangunan kembali dalam suatu kawasan yang dapat meningkatkan fungsi kawasan sebelumnya (Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 18/PRT/M/2010 tentang Pedoman Revitalisasi Kawasan)".

"Reklamasi adalah kegiatan yang dilakukan oleh orang dalam rangka meningkatkan manfaat sumber daya lahan ditinjau dari sudut lingkungan dan sosial ekonomi dengan cara pengurugan, pengeringan lahan atau drainase

(sumber : Peraturan Presiden RI No. 122 tahun 2012 tentang Reklamasi di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil)".

Revitalisasi dilakukan di Teluk Benoa dikarenakan lokasinya yang strategis, ditunjang dengan kesiapan infrastruktur seperti jalan tol, bandara, pelabuhan dan infrastruktur pendukung pariwisata lainnya. Kami berharap dengan penciptaan lahan baru dapat mengurangi desakan untuk mengkonversi lahan-lahan produktif (penghijauan, pertanian, dll) menjadi bangunan atas nama peningkatan pariwisata. Ruang terbuka hijau di Bali masih dibawah angka ideal 30%, lahan baru ini didapatkan dari wilayah pasang surut yang tidak produktif dan tidak memiliki flora dan fauna yang dilindungi.

(sumber : Dok TWBI, 2016)

Total luasan yang akan di revitalisasi adalah < 700 ha dengan jumlah pulau reklamasi sebanyak 12 pulau.

(sumber : Dok TWBI, 2016)

Sumber material yang digunakan adalah sumber material yang disetujui Pemerintah berdasarkan perundang-undangan yang berlaku. Sumber material tersebut dapat dipasok dari penyedia selama memenuhi standar kualitas sesuai dengan spesifikasi kebutuhan untuk reklamasi.

(sumber : Dok TWBI, 2016)

Keresahan mengenai banjir dan abrasi oleh masyarakat harus dibuktikan dengan kajian yang menyeluruh dari berbagai aspek teknis, karena Teluk Benoa merupakan muara dari 5 Daerah Aliran Sungai (DAS) dan masih terpengaruh oleh Pasang Surut air laut.

Kegiatan Revitalisasi Teluk Benoa tidak hanya mereklamasi 638 ha yang dibagi menjadi 12 pulau namun juga merevitalisasi alur-alur pelayaran sampai kedalaman -2.5 m. Pendalaman alur-alur pelayaran tersebut dapat menambah volume tampungan air sebesar 5.512.000 m³ di dalam Teluk.

Pemodelan dilakukan dengan membuat pemisalan 3 model (Gambar 1) yaitu :

  • Model 1 kondisi eksisting
  • Model 2 direklamasi tanpa pendalaman alur
  • Model 3 direklamasi kemudian dilakukan pendalaman alur sampai -2.5 m.


Gambar 1 Pemodelan yang dilakukan


Gambar 2 Lokasi Titik-titik Pemantauan


Gambar 3 Kecepatan dan Ketebalan Sedimen pada Titik-titik pengamatan dengan periode ulang banjir 5 tahunan (Q5)

Secara umum dapat disampaikan bahwa kecepatan arus berbanding terbalik dengan laju pengendapan sedimen. Area-area dengan kecepatan tinggi memiliki sedimen yang rendah, sedangkan di area yang memiliki kecepatan rendah, sedimennya tinggi. Berdasarkan Gambar 3 terlihat bahwa kondisi sebelum dan sesudah reklamasi tidak banyak berubah. Pada posisi muara sungai (Titik 2, 4, 5, 6) kecepatan rendah sehingga sedimen yang dihasilkan pun cukup tinggi. Sedangkan di posisi mulut Teluk Benoa (Titik 18, 19, 20) kecepatannya tinggi sehingga sedimennya rendah. Setelah direklamasi, di lokasi kanal–kanal antar pulau reklamasi (Titik 8-17) terjadi peningkatan kecepatan, meskipun demikian kecepatan masih dibawah 0.12 m/dt. Sehingga masih belum mampu mengerosi butiran berdiameter 0.06 mm yang berada di Teluk Benoa. Seperti terlihat bahwa sedimentasi pada titik 8-17 masih cukup tinggi.

Berdasarkan hasil kajian tersebut terlihat bahwa abrasi tidak akan terjadi di dalam Teluk Benoa karena kecepatan arusnya masih cukup rendah sehingga tidak mampu mengangkat butiran yang lebih kecil. Seirama dengan hal tersebut, maka sedimen di dalam kanal akan meningkat.


Gambar 4 Elevasi Muka Air di Sungai

Selain itu, dengan adanya sedimen maka ada kemungkinan terjadi penambahan elevasi muka air di sekitar muara sungai dan wilayah sekitar Teluk Benoa. Berdasarkan hasil pemodelan (gambar 4) terlihat bahwa tidak ada penambahan elevasi muka air di muara sungai secara signifikan ±4 cm. Dengan pengerukan alur kanal sekitar pulau reklamasi akan menurunkan elevasi muka air di muara-muara sungai tersebut. Oleh karena itu, akan dijadwalkan pengerukan rutin di kanal-kanal antar pulau reklamasi. Hal ini harus dilakukan guna menjaga volume tampungan air di dalam Teluk Benoa sehingga aliran air dari sungai dapat lancar mengalir ke teluk dan segera mengalir ke luar Teluk Benoa. Bila perputaran air dapat dijaga dengan baik, diharapkan banjir tidak akan menyerang kawasan di sekitar Teluk Benoa.

(sumber : ANDAL TWBI, 2016)

Reklamasi yang benar dan ramah lingkungan adalah dengan menggunakan sistem tanggul, baik tanggul yang bersifat permanen maupun yang non permanen seperti sand bag. Tahap awal adalah menghamparkan dan menyusun tanggul terlebih dahulu hingga elevasi tertentu, mengelilingi lahan yang akan ditiimbun baru kemudian dilanjutkan dengan pengurugan material timbunan. Dengan demikian material timbunan tersebut tidak hilang dan tersebar kamana-mana mencemari lingkungan di sekitarnya. Demikian seterusnya tahapan ini diterapkan hingga mencapai elevasi final rencana atau elevasi pelaksanaan. Selain itu, untuk mencegah berhamburannya butiran-butiran yang lebih halus (silt dan clay) yang umumnya mengapung di permukaan air, maka diperlukan silt barricade yang dipasang di area pulau yang akan direklamasi, sehingga butiran halus tersebut tidak mencemari lingkungan disekitarnya.

Reklamasi tidak dilakukan seluas 1 Pulau secara langsung, namun dibagi menjadi beberapa segmen seperti contoh di bawah ini :






Gambar 5 Contoh Pembagian Segmental Sebuah Pulau Reklamasi

(sumber : ANDAL TWBI, 2016)

Menurut UU no 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana telah dijelaskan bahwa pengertian Mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi resiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana.

Berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) 1726 tahun 2012 Tentang Gempa, Pulau Bali berada pada daerah rawan bencana gempa dan tsunami dengan akselerasi puncak gempa horizontal pada permukaan tanah 1 g. Oleh karena itu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan memodelkan kondisi Teluk benoa sebelum dan setelah reklamasi dengan periode ulang gempa 2500 tahun (kondisi over estimated) dengan pengamatan pada 5 titik tinjau (Gambar 6).


Gambar 6 Setting domain Model Tsunami kondisi eksisting dan setelah reklamasi


Gambar 7 Perbandingan sebelum dan sesudah reklamasi

Pada Gambar 7 merupakan perbandingan parameter tsunami antara kondisi sebelum dan sesudah reklamasi. Gambar 7a memperlihatkan bahwa lahan hasil reklamasi mereduksi kedalaman genangan tsunami sampai maksimum 1.6 m dibeberapa titik sepanjang selatan pesisir timur Badung yang berdampingan dengan jalan By Pass Ngurah Rai. Selain itu juga terlihat terjadi penurunan kedalaman genangan di sebelah barat Tanjung benoa dan beberapa bagian di pesisir Tanjung Benoa dan Nusa Dua.

Sedangkan pada Gambar 7b dari sisi kecepatan aliran memperlihatkan bahwa terjadi reduksi yang sangat signifikan bahkan mencapai 16 m/dt di sepanjang pulau-pulau reklamasi yang berarti bahwa keberadaan pulau-pulau tersebut berpengaruh dalam mengurangi kecepatan aliran tsunami yang menjalar dari mulut Teluk Benoa sampai ke bagian selatan pesisir timur Badung.


Gambar 8. Profil Muka Air (time series) dari 5 titik tinjau di mulut dan di dalam Teluk Benoa pada kondisi sebelum (kiri) dan sesudah (kanan)

Gambar 8 menunjukkan profil muka air menerus (time series) dari 5 titik yang ditinjau berdasarkan Gambar 6. Meskipun tinggi muka air pada kondisi sesudah reklamasi terlihat lebih tinggi di dalam teluk dibandingkan kondisi sebelum reklamasi, kecepatan arus yang lemah seperti Gambar 7b membuat aliran tsunami relatif menjadi lebih mirip dengan genangan banjir dengan arus yang lebih kecil jika dibandingkan dengan kondisi eksisting. Oleh sebab itu, kedalaman genangan tsunami di beberapa kawasan di bagian selatan pesisir timur Badung menjadi lebih rendah karena tidak terdampak rayapan tsunami dengan tinggi gelombang yang lebih besar. Dengan demikian, dapat diperlihatkan bahwa keberadaan pulau-pulau reklamasi di dalam Teluk Benoa juga berperan dalam mitigasi bencana tsunami khususnya bagian selatan pesisir timur Badung dan bagian barat Tanjung Benoa.

(sumber : ANDAL TWBI, 2016)

Rencana dibukanya 4 akses dari/ke pulau reklamasi untuk umum sehingga bisa mengurai kemacetan diluar pulau reklamasi. Selain itu, pengkajian mengenai transportasi telah dilakukan secara menyeluruh sampai dengan 30 tahun mendatang.

(sumber : ANDAL TWBI, 2016)

Salah satu bagian dari kegiatan revitalisasi adalah dengan melakukan pemeliharaan terhadap eksositem mangrove yang ada, menjaga kebersihan DAS, dan pada saat pelaksanaan reklamasi nantinya akan ada pengaturan jarak aman (100-200m) dari wilayah terluar hutan mangrove sehingga dapat meminimalisasi dampak yang timbul.

(sumber : ANDAL TWBI, 2016)

Reklamasi dapat mempengaruhi habitat ikan dan biota laut lainnya, namun revitalisasi berbasis reklamasi justru dalam jangka panjang akan memperbaiki habitat ikan dan biota lainnya yang semakin rusak akibat pendangkalan, diantaranya melalui pendalaman alur yang penting untuk pergerakan ikan dan menyediakan habitat bagi biota pesisir yang akan berevolusi dalam proses revitalisasi (sumber: Prof. Dr. Dietrich G. Bengen, DEA)

(sumber : ANDAL TWBI, 2016, 2014)

Kegiatan RTB berlandaskan filosofi “Tri Hita Karana” yang pada pelaksanaanya harus memperhatikan ketiga aspek yaitu Parhyangan, Palemahan dan Pawongan. Ini artinya, kegiatan tersebut tidak akan mengganggu dan merusak kawasan suci, justru dengan RTB nantinya akan dipersiapkan tempat bagi umat Hindu untuk melakukan aktivitas sembahyang, contohnya pembangunan dan penataan kembali kawasan Pulau Pudut sebagai Pulau Adat untuk masyarakat.

(sumber : ANDAL TWBI, 2016)

Tanah Lot, Pura Besakih dan Pura Uluwatu tidak akan pernah tergantikan dikarenakan pesona alam dan budayanya. RTB hadir sebagai alternatif destinasi wisata untuk wisatawan lokal maupun mancanegara sehingga hal ini dapat meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan ke Bali. Di lain sisi, apa yang dibangun nantinya wajib mempertahankan dan berbudayakan bali sehingga dapat menjadi kebanggaan untuk masyarakat Bali.

(sumber : Dok TWBI, 2016)

Nelayan dan Wisata Bahari memiliki akses 24 jam di perairan Teluk Benoa. Alur yang sudah diperdalam dapat dipergunakan untuk kepentingan bersama. Para pengusaha water sport tidak perlu khawatir, dikarenakan PT TWBI hadir sebagai developer, sehingga apa yang dibangun adalah sarana dan wadah yang nantinya dapat mengakomodasi kepentingan dan bersinergi dengan pengusaha lokal water sport.


Gambar 9 Akses Nelayan dan Wisata Bahari Sebelum dan Sesudah Revitalisasi

(sumber : ANDAL TWBI, 2016)

Manfaat ekonomi yang paling utama adalah terjadinya penyerapan tenaga kerja kurang lebih sekitar 200.000 tenaga kerja, yang penyerapannya dilakukan secara bertahap sesuai dengan tahapan dalam penyelesaian RTB. Penyerapan tenaga kerja ini akan diprioritaskan 80% merupakan tenaga kerja lokal sesuai dengan kompetensi dan bidang keilmuannya. Manfaat lainnya bagi pemerintah provinsi, kabupaten dan kota adanya pertambahan pendapatan daerah yang dapat digunakan untuk membangun wilayah-wilayah lainnya di Bali.

(sumber : ANDAL TWBI, 2016)